Sabtu, 03 Mei 2014

SOSOK YANG KU KENANG




















Aku beranikan diri bercerita
Pada pekat malam senyap
Getar bibirku mengelupas gundah
gurat nadi yg tk lagi berdarah
Malam tetap saja malam, hening
derai air mata buatnya geming
lepas sudah belenggu bayang
sosok wanita- wajah yg q kenang
cuma wayang, buatku kepayang
matanya sudah mencongkel hatiku,
hanya sementara, semu
aku pun buta, miskin bisu.
tinggal, biar kesendirian menjemu
hari-hari hanya munajat, istikharah sendu
Berpaling, pada Sang Pencipta penguasa kalbu
(Note FB, 12 November 2012)

MUNAJAT KATA














Jam pasir masih bergulir,
mengubur cita rasa kata,
dulunya yang manis, getir,
sekarang mati rasa,
kelu, menutup buku.
lembar demi lembar tersapu,
pena tinta melukis tanda tanya,
aku memadu kata, kau mencampur warna,
tampaknya, munajat kata tak lagi mustajab,
di sepertiga malam, aku hanya terlelap.
aku kau tak lagi kita.
sudah, cukupkan lelah,
aku harus menyerah, bawa rasa bersalah,
ubah, mulai langkah,
di penghujung fajar, mentari pasti merekah,
aku kamu biar masing-masing,
mencari celah, jeda, koma,
semoga dipertemukan di kurung buka titik dua,
tepat di bawah pohon kata, kita memanen makna
(Catatan FB 20 November 2013)

KEPERGIANKU



Oleh: Dwitasari

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Cepat atau lambat pepatah ini akan terjadi pada siapapun, termasuk aku.
Iya, tentu saja ada airmata, tentu saja ada semilir duka.

Tapi aku percaya semua ini akan terlewati dan kembali baik-baik saja.
Aku juga manusia biasa, punya rasa rindu yang menggebu.
Aku rindu menjadi diriku sendiri, aku yang utuh.

Aku yang ku kenali, aku yang ku inginkan.

Memang semua tak lagi sama, tapi percayalah, ini yang terbaik.

Jangan ada benci apalagi caci, kita telah dewasa.
Bukankah dewasa berarti siap melupakan juga merelakan.
Kita masih bisa bertemu dalam nyata atau dalam doa.
Kita masih bisa saling membahagiakan.
Dalam peluk, dalam tawa, manis.
Ini bukan kepergian, kita hanya sama-sama ingin meraih tujuan.
Tolong, tolong jangan anggap ini perpisahan.
Hanya raga kita yang terpisah, tapi hati ini masih saling bertautan.
Tubuhku memang tak lagi bersama kalian.
Tapi, izinkan aku menyelamatkan hati.
Agar perbedaan ini tak jadi bumeranguntuk saling menyakiti.
Aku pergi karena aku ingin menjadi yang aku ingini.

LAGU PERPISAHAN

















Aku bertanya pada lilin,
Mengapa apimu padam diterpa angin,
Jawabnya, aku rapuh, leleh, saat dirimu jauh.
Sekarang kau tak seterang dulu,
Setengah hati berseri, setengah rasa berduka,
Mungkin detak jam memberimu isyarat,
Bahwa hidup, tak selamanya dekat.
Genggamlah lilin ini kawan,
biar kita tetap hangat dan bersahabat,
walau raga dan keadaan tak lagi terikat,
Namun sayup rindu ini takkan membuat jemu,
Lagu penuh tawa, gurau,
masih bersenandung mengiringi langkah pisah ini.
Aku, kamu, kita,
masih seirama, senada, seia sekata..


(Note FB, 31 August 2013)

Rabu, 30 April 2014

DI RUANG SEPI

















Aku bingung memulainya.
Saat daun-daun rontok dari dahannya,
dan bunga-bunga layu melepas aroma.
Aku termangu melihat laku.
Waktu yang egois memenggal suku
kata-kataku pudar berpendar
pada atmosfer duka dan hawa malas.
Dupa yang aku bakar, pena yang ku genggam
tak membuat percepatan meningkat.
Bersama atau sendiri, sepi
mengikat hari, hati, dan mati.
Arwahku terbang kembangkan senyuman,
tatap realitas, titip rasa was-was.
Aku berkelana mengarungi cita,
berkemas segera, jiwa tanpa raga.
Di kantor yang kosong, siang bolong.



(Di Ruang Sepi, 19/11/13)
 

SEKERAT PUISI HARIAN


THE BEGINING
Dalam kata hidup bermula
Dengan kata cinta bermakna
Melalui kata canda tawa tercipta
Hanya puisi, kata menyimpan misteri
Estetika dan relikui kehidupan
(Mashar: Oktober 2011)

STAGNASI














Sepertinya goresan tinta ini takkan habis
mengurai makna tatapan matamu yang sinis
kadar hati dan satuan pikiran
membuat indera perasaku mati rasa.
Keluh kesah tak lagi berguna
seperti raga yang kehilangan jiwa.
Kau tak hiraukan aku
walau hanya sekerjap mata, seulas senyum.
Tampaknya, acuhmu buatku luluh
asa dan rasa senantiasa tertahan,
konsistensi berujung stagnasi.
Ku tunggu kau pergi, dan
Kau tunggu ku mati.

KADO PERNIKAHAN

Specially for my student, who will married..












Akan tiba saatnya
Jiwa ini terjerat cinta
Tak lagi sekedar permainan
Namun menjadi sebuah perjanjian
Cinta tulus ini
Terpadu juga dalam sebuah akad
Perjanjian diri tuk saling setia
Sehidup semati, menyatukan separuh jiwa
Saat akad terucap,
Resmi diri ini seutuhnya milikmu
Resmi hidup ini ku serahkan untukmu
Konsekuesikan ucap akad itu
Sebagai wujud cinta kita
Berjanjilah tuk katakan yang sebenarnya
Bahwa kita saling CINTA
(Akad, By: Violannisa)

MIMPI SAHABAT

















Jemari malam membelai,
Bersambut lambai kalbu yang masih sendu.
Waktu kian menggelinding di lengkung risau,
Kala sendiri masih meliputi.
Aku mengerti,
Mimpi yang kau sadur bercerita cinta tanpa dengkur.
Namun aku masih ingin terjaga,
Melahap santap garam hidup.
Andai mimpi dan hidup bisa disatukan,
Kata cinta tak perlu terucap.
Hanya saja, aku bukan malaikat,
Yang pandai memikat dewi malam.
Ceritakan saja semua mimpimu.
Luapkan saja asa rasamu,
hanya sebatas malam ini,
di saat bintang hati masih bersinar.
Bukankah begini, cara bintang kembar mencipta surya?
Bukankah sahabat adalah sinar malam yang paling  terang,
Saat semua bintang hati temaram?
Kabarkan pada sang malam,
Sinar itu, kita.

Selasa, 29 April 2014

TARIAN HUJAN















Hembus angin membelai rambut,
Melambai mengiyakan desas desus massa,
Kau, lagi-lagi kau memukau,
Mengekspresi diri bagai hujan, merindu reda.
Lentikan jari, desahan nafas saling berpagutan,
Mengiringi irama perkusi tifa,
Lenggokan pinggulmu, menanda lapar,
Gelengan kepalamu, isyarat kebodohan,
Tak samar, kau penuhi panggilan jiwa.
Kau tak lagi mengeram emas,
Bumimu saja enggan meneguk hujan,
Hanya menjadi pemirsa realita,
Hidupmu yang kian asing, terbelah dilema.
Bangsa tak lagi bangsa, Negara hanya boneka,
Ku lihat, kau masih menari hujan,
Menengadahkan tangan, berputar mengharap kebebasan,
Hujan yang melarutkan duka dan penindasan.