Selasa, 03 Juni 2014

Refleksi Jalan Karier

Perjalanan kini semakin melelahkan. Bimbang, ragu, putus asa senantiasa menjadi duri penghalang langkah. Setelah lepas dari beban kuliah, nampaknya babak hidupku semakin hilang arah. Kemantapan hati mulai goyah, dan aku perlahan kafir terhadap komitmen yang telah ku pegang erat berpuluh-puluh tahun. Persepsi akan kerja selalu berujung harta. Tatkala aku menyusuri jalan yang telah ku babat alas, rasanya semakin dalam ku susuri semakin lelah, dahaga, dan lapar. Hanya gerutu yang ku temu, tak ada emas ataupun seloka. Aku merasa hidupku akan berujung nista, apabila tak ada perubahan yang berarti. Mulai itu, dunia mengesampingkan Tuhan. Ibadah hanya soal sempat, rupiah semakin memikat. Begitu mudahnya hati manusia ditipudaya oleh dunia, sehingga aku mewakili manusia kehilangan kesadaran sosial dan spiritual.

Sabtu, 03 Mei 2014

PURNAMA SENJA

[Di Kaki Muria, Menyambut Purnama]
Senja kian merabunkan mata. Tepat saat bedug magrib ditabuh, kita masih terengah-engah berlarian menuju ladang. Katanya, pemandangan paling indah di jagat raya ini adalah terbenamnya mentari senja di kaki bukit. Setidaknya, ladang kita berada seratus meter dari puncak bukit, dan bisa menikmati perpisahan mentari. Seperti biasanya, kamu melenggokkan pinggulmu ke kiri dan ke kanan seakan menari gambyong menyalami malam menjelang. Aku hanya bisa tertawa sembari menyaksikan kawanan sapi yang mulai berjalan pulang memasuki kandangnya. Dingin, sudah menjadi selimut kami tiap malam.
Perutku mulai terguncang, yang sejak siang hanya berhuni dua butir umbi jalar. Aku mencoba merayumu untuk lekas pulang, menyantap hidangan malam yang disajikan bunda. Namun kau bersikukuh untuk tetap menatap langit, seolah-olah bakal ada pertunjukan luar biasa yang disajikan di sana. Benar saja, malamini purnama datang bersama selimut awan jingga. Lukisan alam yang memanjakan mata. Seketika kau ingin mengabadikan momen bulanan ini. Kau raih tanganku dan merapatkan jari-jariku dengan jarimu membentuk lingkaran. Seolah-olah kau ingin mengukur diameter bulan. Dengan bahasa sederhana dan terbata-bata kau bilang, “Ini untukku dan ini untukmu”. Entah apa yang kamu maksud dengan kata-kata itu, namun aku mengerti bahwa setidaknya kita sudah tau lengkung bulan itu seperti telur mata sapi. Bulat dan nikmat, selalu kita bagi berdua.

HATI BATU (Part 1)

 Tetes-tetes air hujan masih membasahi pucuk dedaunan di seberang pandanganku. Aku sedikit acuh dengan suara gemuruh halilintar dan petir yang memecah biru langit, karena mataku asyik mengamati tetes-tetes air yang menuruni tulang dedaunan berakhir jatuh ke tanah yang basah. Tanah itu menelan butir-butir air perlahan hingga tidak nampak dari permukaan. Hujan mulai turun membuyarkan lamunanku, terlalu cepat butiran air itu memecah menjadi bah yang siap menggenangi tanah. Sungguh tanah yang malang. Sembari aku mengubah posisi duduk yang semula ku telungkupkan kedua kaki pada lingkaran tangan dan menindihkan dagu pada tulang hasta. Aku sekarang duduk relaks dengan merebahkan punggungku pada sandaran shofa di ruang tamu.
Di seberang jalan orang-orang berlalu-lalang meninggalkan tempat aktivitasnya, menuju tempat berteduh. Para ibu berhamburan mengangkat cucian yang sudah hampir kering, ada juga yang mengeluarkan ember dan baskom untuk menampung air hujan yang sudah hampir seminggu tidak turun. Air-air itu biasanya digunakan untuk minum, memasak, maupun untuk menyuci baju, karena kebanyakan warga kampung sekitar tempat kostku tidak memiliki sumur atau persediaan air di rumahnya. Aku lebih memperhatikan sebuah toko yang setengah jadi dibangun di seberang jalan, tinggal atapnya saja yang belum klaar. Para tukang dan pekerja bangunan itu bergegas mencari sebuah layar yang digunakan untuk menutup bagian atas bangunan yang baru saja dicor. Namun, ada satu hal yang menarik pandanganku. Seorang lelaki yang bertubuh kekar, berkulit coklat kehitam-hitaman, berrambut ikal, tetapi sayang ia berjalan tidak selayaknya orang biasa. Ia agak sempoyongan berjalan membawa satu sak semen menuju tempat berteduh. Bukan karena lima puluh kilo gram bobot semen yang ia bawa, karena aku tahu seberapa besar otot bisep-trisepnya. Tetapi, karena kaki kirinya seperti terkilir, atau bahkan lebih dari itu. Butiran keringatnya membanjiri sekujur tubuhnya, sederas air hujan yang jatuh di tanah basah tadi.

SEJENAK BERSAMA RASULULLAH

Langkah demi langkah kami menyusuri bukit-bukit penuh semak belukar, sambil ‎bergandengan tangan tanpa henti. Langkah ini semakin berat, seperti ada beban yang merantai di ‎pergelangan kaki kami. Sesekali kami menghela nafas panjang dan menghempaskannya dengan ‎meneriakkan vocal ‘A’ panjang untuk sekedar merelaksasikan fikiran dan jiwa kami yang penuh ‎cucuran peluh. Perjalanan ini sungguh melelahkan.‎
Kami berlima: Aku, Dimas, Aji, Naira, dan Isma mendapat tugas dari Ketua Jurusan ‎‎(Kajur) Tarbiyah IAIN Walisongo untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada ‎semester pungkasan. Hampir 5 km kami berjalan dari tepian Jalan Karanganyar-Kudus menuju ‎desa Undaan, sebuah perkampungan kecil yang di tengah hamparan pesawahan. Kampung itu ‎terkenal dengan hasil bumi berupa sayur mayur dan buah-buahan, namun seiring dengan ‎bertambahnya area industri di daerah sekitar banyak warga desa yang berbondong-bondong ‎beralih profesi menjadi buruh pabrik. Kami menikmati perjalanan yang menguras tenaga ini, ‎seraya saling melontarkan celoteh. Kali ini aku yang jadi sasaran baku tembak cibiran mereka, ‎karena sampai sekarang aku masih menyandang status jomblo. Lain dengan teman-teman di ‎sampingku ini, sudah mahir memainkan istilah cinta atau setidaknya sudah mencicipi indahnya ‎pacaran. Hatiku semakin panas ketika Dimas ikut-ikutan meledek, seakan-akan ia membuka kartu ‎As yang pernah aku perlihatkan padanya.‎
Aku bergumam sendiri dalam hati sambil melirikkan mata ke arah Dimas. Dia adalah rival ‎terberat di kampusku dalam beberapa ajang lomba karya ilmiah. Selain rival, ia juga sahabat ‎karibku yang aku anggap seperti saudara kandung. Tak seperti aku yang hidup berkecukupan dan ‎masih memiliki kedua orang tua, ia hidup cukup memprihatinkan. Semenjak ia kecil ia menjadi ‎yatim piatu. Ayahnya seorang tukang becak meninggal sebagai korban tabrak lari, sedangkan ‎ibunya meninggal kena serangan kanker leher rahim ketika mengandung adiknya yang baru ‎berusia 7 bulan. Dokter memvonis harus diadakan aborsi, namun Allah berkehendak lain. ‎Keduanya meninggal dunia. Bahkan Dimas tidak sempat menemani detik-detik terakhir bersama ‎mereka, ketika itu ia sibuk menemani pamannya mengurusi administrasi rumah sakit. Namun, ‎waktu itu tak sedikitpun aku lihat lelehan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Tak ‎seperti tanah makam keluarganya yang masih basah dengan serpihan bunga bertabur di atasnya. ‎Ia duduk termangu  di antara kedua nisan itu, sambil mengorek-orekkan sebatang kayu  di atas ‎tanah seakan ingin menyampaikan isyarat hatinya kepada medan penghabisan itu. Yah, minha ‎khalaqnakum, wa fiha mu’idukum, wa minha nukhrijukum tarotan ukhra[1], sepertinya kalimat ‎ini yang senantiasa terngiang-ngiang di telinga sebatang kara itu berharap Tuhan memutar waktu ‎lebih cepat dan terus cepat agar bumi segera memuntahkan isi perutnya.‎

Rabu, 30 April 2014

GUGUSAN JALAN

Menelusuri jalan sepanjang 20 km memang bukan pekerjaan yang mudah. Di bawah terik raja siang yang semakin menyeringai di tambah dahaga kerongkongan kian membuat perjalanan ini bertambah berat. Walau kibasan lalu lalang kendaraan meniupkan angin ke lubang tubuhku, masih tak menurunkan temperature badan yang kepanasan ini. Ku tengok lukisan langit tak menggambarkan sedikitpun tanda-tanda munculnya awan mendung. Hanya si Raja siang yang gagah perkasa menghujamkan panah sinarnya, ditangkis perisai aspal jalan membuat hawa neraka makin terasa.
Aku, sebut saja pemulung, bersama kawanan penghuni rumah kumuh bercengkrama di ruas-ruas trotoar jalan. Berjalan dari satu tong sampah, bak sampah, sampai ke pembuangan limbah industri plastik. Pekerjaan ini tentunya bukan cita-cita, hanya saja keadaan yang menjadikan pemulung satu-satunya profesi yang pantas buat kami, kaum pinggiran.  Memungut sampah di setiap liku jalan atau kotak-kotak sampah di trotoar menjadi semacam suratan takdir bahwa keberadaan hidup kami bak sampah yang tak diinginkan. Miskin, bodoh, dan terasing. Sebagaimana kawasan-kawasan elit yang menyantumkan warning: “Pemulung dilarang masuk!”

KABAR LEGI BRATAWALI



Kanggo Kancaku kang daktresnani

Dicky Wahyudi
Kampus Universitas 17 Agustus
Semarang

Ora sedelok olehe kita sesrawungan karo deweke. Wis patang taun kapungkur, mulai kelas siji MA nganti kuliah sakniki, rasane kok ora ono bedane. Deweke isih rumangsa egois, durung bisa nrima aku lan kowe dadi kanca kang sejati. Padahal aku wis nglilakna apa wae kang kok karepake, supaya silaturahim iki tansah hayubagya nganti tekan besok tuwa.
Doni, kancamu kang tak critakke iki asale mung anak pinggiran. Deweke bisa sekolah amarga oleh beasiswa miskin kang digagas dening Dewan Yayasan. Aku ya ora nyana menawane wong pinggiran kaya deweke duwe gengsi kang gedhe, ora gelem direwangi apa-apa menawake katekan susah. Kaya ta pas sekolah ngadakke study tour seng butuh urunan kang ora setithik. Aku karo kowe wes karaya-raya ngumpulke duit kanggo ngajak deweke supaya bisa melu acara kuwi, e malah ora dianggep babar pisan. Jarene, "Aku gak butuh mbok kasiani, mengko meroi ana dalane." Rasa mendekel neng ati iki isih krasa, nanging sepadane kanca ya kudu ndukung lan pangerten. Ora urung suwe, Doni oleh duwit kanggo bayar urun. Mbuh saka ngendi dalane aku ya ora paham, tapi jarene deweke nyambi manol neng sawah bakdane mulih saka sekolah.

LENTERA MULAI MENYALA

Malam tak menyisakan setitik cahaya di ruangan gelap gulita. Ruangan itu bagai kolong yang tak memiliki celah untuk menyelipkan sinar rembulan. Sayup-sayup terdengar rintihan wanita yang tengah mempertaruhkan nyawa demi melahirkan bayinya. Di dekatnya tampak seorang laki-laki yang mondar-mandir mencari-cari perabotan yang nantinya akan digunakan setelah anak keempatnya itu lahir. Minyak untuk menerangi ruangan telah habis. Kain yang nantinya untuk pembungkus bayi pun tidak ada. Sebagai lelaki, dia merasa tak berdaya melihat istrinya merintih kesakitan sementara suaminya hanya mondar-mandir tidak berbuat apa-apa.
“Pak, coba minta minyak ke rumah tetangga, siapa tahu mereka sudi meminjamkannya pada kita.” Saran sang istri sembari menahan perih.
“Tapi, aku sudah terlanjur berjanji untuk tidak menerima bantuan selain kepada Tuhan.” Kata suami dalam hati. Ia pun pergi meninggalkan rumah, berniat menenangkan hati istrinya untuk mencari minyak. Janji tetaplah janji, ia tak berani mengingkari. Ismail, begitu nama suami itu pulang dengan tangan hampa. Sesampai di rumah, ia menunggu kelahiran bayinya yang masih dalam proses persalinan. Tak kuasa menahan kantuk yang mendera, ia tertidur. Dalam mimpinya ia bertemu dengan sosok yang sangat terang parasnya, yang belum pernah ia temui sebelumnya. Namun rasanya ia sudah kenal dengan sosok tersebut, melihat ciri-ciri dan sifatnya yang agung. Ia baru menyadari, sosok itu adalah Junjungannya, Rasulullah SAW. Beliau menenangkan hati Ismail.